Hei nona manis,
masih ingatkah nona akan diriku
tentang perjumpaan singkat kita di sore itu
mungkin nona sudah lupa, namun pertemuan itu membekas dalam hatiku
ketika aku sedang menunggu di salah satu sudut kota itu
ku lihat adikmu, seorang lelaki gagah dalam perawakan kecilnya;
berdiri tegap dengan karung besar dibahunya.
ia mencuri perhatianku, menggoda keingintahuanku akan apa yang ia lakukan di sana
Saat itulah aku melihatmu, muncul dari tempat sampah yang menghalangi pandanganku akan diri nona
kalian kembali berjalan, melewati kami- aku dan kakakku
aku terdiam melihat kalian berdua, berjalan bergandengan menjauhiku
ketika kakakku meminta untuk memberikan makanan yang kami bawa
aku meraih dua buah kotak kecil minuman dan satu plastik roti yang setengahnya sudah berpindah ke perut kami
aku berjalan mengejar nona dan mencoba menyapa nona
senyum lebar menghiasi wajah tampan adikmu saat tangan kecilnya menerima roti dan minuman itu
dan saat itulah aku mendengar suara indah nona
tak banyak, hanya satu kata terucap dari mulut mungilmu
Terima kasih...
Tahukah nona, aku tak pernah melupakan perkataanmu itu
sebuah ucapan tulus dan senyum manis dari nona yang sangat berarti untukku
bukan karena aku merasa telah berbuat kebaikan padamu
tapi karena aku disapa oleh Tuhan, melalui dirimu
~Kenangan akan dua pemulung kecil di kota Kupang, Feb 09~
Uppsala 040910
Post new comment